Selasa, 19 Maret 2019

Tugas 1


Pengertian TOEFL

TOEFL adalah singkatan dari Test of English as a Foreign Language. TOEFL merupakan test proficiency yang digunakan untuk mengukur kemampuan Bahasa Inggris seseorang tanpa dikaitkan secara langsung dengan proses belajar mengajar. TOEFL berbeda dengan achievement test, yaitu tes yang lingkup ujinya terbatas pada bahan yang telah dipelajari siswa dalam satu kelas Bahasa Inggris. TOEFL mencakup empat aspek yaitu (1) Listening Comprehension, (2) Structure and Written Expression, (3) Reading Comprehension, dan (4) Test of Written English (TWE).
Ada tiga macam tes TOEFL yaitu International TOEFL test, Institutional TOEFL test, dan TOEFL Like-Test. Perbedaannya adalah bahwa soal International TOEFL baru dalam setiap pelaksanaan tes. Sedangkan soal institutional test dan TOEFL Like-test bersumber pada soal-soal beberapa tahun sebelumnya dari International TOEFL test. Masa berlaku tes TOEFL berbeda- beda. International TOEFL test, masa berlakunya adalah dua tahun yang dapat diterima di seluruh universitas di dunia. International TOEFL test dapat digunakan untuk melamar beasiswa ke luar negeri. Bagi Institutional TOEFL Test, masa berlakunya hanya enam bulan, biayanya jauh lebih rendah, tidak dapat digunakan untuk mendaftar ke universitas di luar negeri tetapi dapat dipakai untuk melamar beasiswa ke luar negeri. TOEFL Like-Test tidak dapat digunakan untuk mendaftar ke universitas luar negeri, hanya untuk memenuhi persyaratan universitas tertentu di Indonesia.


Perbedaan Antara TOEFL iBT dan TOEFL ITP

      1.     Kemampuan yang Diujikan
Pada Official TOEFL (iBT) test, kemampuan yang diujikan meliputi reading comprehension, listening, writing dan speaking. Sedangkan, pada TOEFL ITP test, kemampuan berbahasa Inggris yang diujikan meliputi listening comprehension, structure and written expression, dan reading comprehension. Jadi, bisa dilihat bahwa ITP tidak menguji kemampuan berbicara secara aktif.

      2.     Rentangan Nilai
Pada TOEFL iBT, rentangan nilai yang diberikan adalah dari 0 sampai 120. Sedangkan dalam ITP, rentangan nilai ini masih dibagi dalam dua level berdasarkan tingkat kemampuan peserta tes. Level pertama (intermediate to advanced) memiliki rentangan skor dari 310 sampai 677. Lalu, level kedua (high beginning to intermediate) menggunakan rentangan nilai dari 200-500.

      3.     Biaya Pendaftaran
Biaya pendaftaran untuk TOEFL ITP adalah berkisar 350 ribuan. Sedangkan untuk TOEFL IBT sekitar USD $175 (2,3 juta). Biaya pendaftaran TOEFL IBT memang lebih mahal, dikarenakan IBT merupakan TOEFL Kelas Internasional yang bisa digunakan untuk kepentingan ke luar negeri.

      4.     Teknis Pelaksanaan
Pada TOEFL ITP, tes dilakukan secara tertulis. Selain itu, tes ini lebih fleksibel karena tes bisa diselenggarakan sendiri oleh instansi tertentu dengan menentukan jadwalnya sendiri. Dengan penyelenggaraan yang diatur sendiri, fasilitas dan staff pun bisa berasal dari institusi tersebut, sehingga akan lebih fleksibel dan dana tidak terlalu besar. Dalam hal penilaian, institusi tersebut bisa bekerja sama dengan institusi yang menjadi jaringan resmi dari ETS. Sedangkan pada TOEFL iBT, tes dilakukan secara online dengan pengawasan ketat terkait dengan materi serta persyaratan yang harus dipenuhi. Selain itu, tes ini diselenggarakan langsung oleh oleh ETS sehingga jadwal tidak bisa fleksibel karena harus mengikuti jadwal yang telah dibuat oleh ETS sejak jauh hari. Penilaian pun dilakukan lebih ketat karena dilakukan secara otomatis dan manual (diteliti oleh staff tertentu).

      5.     Tujuan dan Fungsi
Dari segi tujuannya, Official TOEFL test ini digunakan untuk melihat kemampuan seseorang dalam menggunakan Bahasa Inggris untuk keperluan melanjutkan studi dan juga bekerja di negara lain yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam komunikasi. Dengan demikian, hasil dari tes ini diakui secara luas diberbagai institusi pendidikan dan instansi non-akademis. Tes ini bahkan menjadi salah satu prasyarat penting bagi orang yang ingin melajutkan pendidikan dan bekerja di luar negeri. Sedangkan ITP test, lebih digunakan secara intern dan tidak bisa digunakan secara luas layaknya official TOEFL test seperti iBT test. Umumnya, ITP test lebih digunakan sebagai syarat masuk dan kelulusan dari suatu institusi pendidikan tinggi. Selain itu, tes ini juga digunakan sebagai salah satu placement test. Beberapa institusi juga menggunakan ITP test untuk melihat perkembangan peserta didiknya dalam menggunakan Bahasa Inggris, terutama non-verbal. Hasil dari test ini juga dapat digunakan sebagai prasyarat untuk mengajukan beasiswa pendidikan.

      6.     Cara Pendaftaran
Pada TOEFL ITP, Anda bisa langsung datang ke lembaga bahasa disalah satu Universitas atau lembaga bimbingan belajar yang mengadakan TOEFL ITP. Setelah itu Anda mendaftar dan membayar biaya pendaftaran tes. Setelah jadwal ditentukan Anda diharapkan untuk datang tepat waktu. Sedangkan, untuk TOEFL IBT pendaftaran dapat dilakukan ditempat penyelenggaraan TOEFL IBT yang ada disetiap negara (biasanya ada di ibukota negara). Jika Anda tidak sempat untuk datang ke tempat penyelengaraan, Anda dapat mengunjungi website dari ETS (www.ets.org). Setelah masuk kedalam website, Anda diminta untuk membuat akun untuk tes TOEFL. Selanjutnya Anda mendaftar mengikuti tes dan membayar biaya pendaftraan dengan kartu kredit atau voucher. Setelah itu tes akan dijadwalkan.



Sumber :

http://www.geniusedukasi.com/apa-itu-toefl/
http://www.belajaringgris.net/perbedaan-official-toefl-ets-ibt-vs-toefl-itp-test-5779.html

Selasa, 29 Januari 2019

Post Test Tools Audit TI


Tools yang dapat digunakan untuk membantu pelaksanaan Audit Teknologi Informasi. Tidak dapat dipungkiri, penggunaan tool-tool tersebut memang sangat membantu Auditor Teknologi Informasi dalam menjalankan profesinya, baik dari sisi kecepatan maupun akurasinya.
Berikut beberapa software yang dapat dijadikan alat bantu dalam pelaksanaan audit teknologi informasi
1.   Picalo
Picalo merupakan sebuah software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) seperti halnya ACL yang dapat dipergunakan untuk menganalisa data dari berbagai macam sumber.Picalo bekerja dengan menggunakan GUI Front end, dan memiliki banyak fitur untuk ETL sebagai proses utama dalam mengekstrak dan membuka data, kelebihan utamanya adalah fleksibilitas dan front end yang baik hingga Librari Python numerik.
Berikut ini beberapa kegunaannya :
  • Menganalisis data keuangan, data karyawan
  • Mengimport file Excel, CSV dan TSV ke dalam database
  • Analisa event jaringan yang interaktif, log server situs & record sistem login
  • Mengimport email kedalam relasional dan berbasis teks database
  • Menanamkan kontrol dan test rutin penipuan ke dalam sistem produksi

2.   ACL
ACL (Audit Command Language) merupakan sebuah software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) yang sudah sangat populer untuk melakukan analisa terhadap data dari berbagai macam sumber. ACL for Windows (sering disebut ACL) adalah sebuah software TABK (TEKNIK AUDIT BERBASIS KOMPUTER) untuk membantu auditor dalam melakukan pemeriksaan di lingkungan sistem informasi berbasis komputer atau Pemrosesan Data Elektronik.
3.   Powertech Compliance Assessment
Powertech Compliance Assessment merupakan automated audit tool yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark user access to data, public authority to libraries, user security, system security, system auditing dan administrator rights (special authority) sebuah serverAS/400.
4.   Nipper
Nipper merupakan audit automation software yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark konfigurasi sebuah router. Nipper (Jaringan Infrastruktur Parser) adalah alat berbasis open source untuk membantu profesional TI dalam mengaudit, konfigurasi dan mengelola jaringan komputer dan perangkat jaringan infrastruktur.

5.   Nessus
Nessus merupakan sebuah vulnerability assessment software, yaitu sebuah software yang digunakan untuk mengecek tingkat vulnerabilitas suatu sistem dalam ruang lingkup keamanan yang digunakan dalam sebuah perusahaan.
6.   NMAP
NMAP merupakan open source utility untuk melakukan security auditing. NMAP atau Network Mapper, adalah software untuk mengeksplorasi jaringan, banyak administrator sistem dan jaringan yang menggunakan aplikasi ini menemukan banyak fungsi dalam inventori jaringan, mengatur jadwal peningkatan service, dan memonitor host atau waktu pelayanan. Secara klasik Nmap klasik menggunakan tampilan command-line, dan NMAP suite sudah termasuk tampilan GUI yang terbaik dan tampilan hasil (Zenmap), fleksibel data transfer, pengarahan ulang dan tools untuk debugging (NCAT), sebuah peralatan untuk membandingan hasil scan (NDIFF) dan sebuah paket peralatan analisis untuk menggenerasikan dan merespon (NPING).
7.   Wireshark
Wireshark merupakan aplikasi analisa netwrok protokol paling digunakan di dunia, Wireshark bisa mengcapture data dan secara interaktif menelusuri lalu lintas yang berjalan pada jaringan komputer, berstandartkan de facto dibanyak industri dan lembaga pendidikan.
8.   Metasploit
Metasploit Framework merupakan sebuah penetration testing tool, yaitu sebuah software yang digunakan untuk mencari celah keamanan.

Sumber :
https://fidyanathania.wordpress.com/2016/01/08/it-audit-tools/

Pre Test Control Objective for Information and related Technology (COBIT)

Control Objective for Information and related Technology (COBIT) Dikeluarkan dan disusun oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association) pada tahun 1996. hingga saat artikel ini dimuat setidaknya sudah ada 5 versi COBIT yang sudah diterbitkan, versi pertama diterbitkan pada tahun 1996, versi kedua tahun 1998, versi 3.0 di tahun 2000, Cobit 4.0 pada tahun 2005, CObit 4.1 tahun 2007 dan yang terakhir ini adalah Cobit versi 5 yang di rilis baru-baru saja.
COBIT adalah merupakan kerangka panduan tata kelola TI dan atau bisa juga disebut sebagai toolset pendukung yang bisa digunakan untuk menjembatani gap antara kebutuhan dan bagaimana teknis pelaksanaan pemenuhan kebutuhan tersebut dalam suatu organisasi. COBIT memungkinkan pengembangan kebijakan yang jelas dan sangat baik digunakan untuk IT kontrol seluruh organisasi, membantu meningkatkan kualitas dan nilai serta menyederhanakan pelaksanaan alur proses sebuah organisasi dari sisi penerapan IT.
Cobit berorientasi proses, dimana secara praktis Cobit dijadikan suatu standar panduan untuk membantu mengelola suatu organisasi mencapai tujuannya dengan memanfaatkan IT. Cobit memberikan panduan kerangka kerja yang bisa mengendalikan semua kegiatan organisasi secara detail dan jelas sehingga dapat membantu memudahkan pengambilan keputusan di level top dalam organisasi.
Siapa saja yang menggunakan COBIT? COBIT digunakan secara umum oleh mereka yang memiliki tanggung jawab utama dalam alur proses organisasi, mereka yang organisasinya sangat bergantung pada kualitas, kehandalan dan penguasaan teknologi informasi.

Cobit memiliki 4 Cakupan Domain :

1. Perencanaan dan Organisasi (Plan and Organise)
Domain ini mencakup strategi dan taktik yang menyangkut identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.

2. Pengadaan dan Implementasi (Acquire and Implement)
Untuk mewujudkan strategi TI, solusi TI perlu diidentifikasi, dibangun atau diperoleh dan kemudian diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.

3. Pengantaran dan Dukungan (Deliver and Support)
Domain ini berhubungan dengan penyampaian layanan yang diinginkan, yang terdiri dari operasi pada security dan aspek kesinambungan bisnis sampai dengan pengadaan training.

4. Pengawasan dan Evaluasi (Monitor and Evaluate)
Semua proses TI perlu dinilai secara teratur dan berkala bagaimana kualitas dan kesesuaiannya dengan kebutuhan kontrol.
Keempat domain tersebut diatas kemudian dijabarkan menjadi 34 faktor resiko yang harus dievaluasi jika ingin diperoleh suatu kesimpulan mengenai seberapa besar kepedulian manajemen terhadap teknologi informasi, serta bagaimana teknologi informasi dapat memenuhi kebutuhan manajemen akan informasi.


Skala maturity dari Framework COBIT


Maturity model adalah suatu metode untuk mengukur level pengembangan manajemen proses, yang berarti adalah mengukur sejauh mana kapabilitas manajemen tersebut. Seberapa bagusnya pengembangan atau kapabilitas manajemen tergantung pada tercapainya tujuan-tujuan COBIT yang. Sebagai contoh adalah ada beberapa proses dan sistem kritikal yang membutuhkan manajemen keamanan yang lebih ketat dibanding proses dan sistem lain yang tidak begitu kritikal. Di sisi lain, derajat dan kepuasan pengendalian yang dibutuhkan untuk diaplikasikan pada suatu proses adalah didorong pada selera resiko Enterprise dan kebutuhan kepatuhan yang diterapkan.
Penerapan yang tepat pada tata kelola TI di suatu lingkungan Enterprise, tergantung pada pencapaian tiga aspek maturity (kemampuan, jangkauan dan kontrol). Peningkatan maturity akan mengurangi resiko dan meningkatkan efisiensi, mendorong berkurangnya kesalahan dan meningkatkan kuantitas proses yang dapat diperkirakan kualitasnya dan mendorong efisiensi biaya terkait dengan penggunaan sumber daya TI.
Maturity model dapat digunakan untuk memetakan :
1. Status pengelolaan TI perusahaan pada saat itu.
2. Status standart industri dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
3. Status standart internasional dalam bidang TI saat ini (sebagai pembanding)
4. Strategi pengelolaan TI perusahaan (ekspetasi perusahaan terhadap posisi pengelolaan TI perusahaan)

Tingkat kemampuan pengelolaan TI pada skala maturity dibagi menjadi 6 level :

1. Level 0 (Non-existent)
Pada level ini Perusahaan tidak mengetahui sama sekali proses teknologi informasi di perusahaannya.

2. Level 1 (Initial Level)
Pada level ini, organisasi pada umumnya tidak menyediakan lingkungan yang stabil untuk mengembangkan suatu produk baru. Ketika suatu organisasi kelihatannya mengalami kekurangan pengalaman manajemen, keuntungan dari mengintegrasikan pengembangan produk tidak dapat ditentukan dengan perencanaan yang tidak efektif, respon sistem. Proses pengembangan tidak dapat diprediksi dan tidak stabil, karena proses secara teratur berubah atau dimodifikasi selama pengerjaan berjalan beberapa form dari satu proyek ke proyek lain. Kinerja tergantung pada kemampuan individual atau term dan variasi dengan keahlian yang dimilikinya.

3. Level 2 (Repeatable Level)
Pada level ini, kebijakan untuk mengatur pengembangan suatu proyek dan prosedur dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut ditetapkan. Tingkat efektif suatu proses manajemen dalam mengembangankan proyek adalah institutionalized, dengan memungkinkan organisasi untuk mengulangi pengalaman yang berhasil dalam mengembangkan proyek sebelumnya, walaupun terdapat proses tertentu yang tidak sama. Tingkat efektif suatu proses mempunyai karakteristik seperti; practiced, dokumentasi, enforced, trained, measured, dan dapat ditingkatkan. Product requirement dan dokumentasi perancangan selalu dijaga agar dapat mencegah perubahan yang tidak diinginkan.

4. Level 3 (Defined Level)
Pada level ini, proses standar dalam pengembangan suatu produk baru didokumentasikan, proses ini didasari pada proses pengembangan produk yang telah diintegrasikan. Proses-proses ini digunakan untuk membantu manejer, ketua tim dan anggota tim pengembangan sehingga bekerja dengan lebih efektif. Suatu proses yang telah didefenisikan dengan baik mempunyai karakteristik; readiness criteria, inputs, standar dan prosedur dalam mengerjakan suatu proyek, mekanisme verifikasi, output dan kriteria selesainya suatu proyek. Aturan dan tanggung jawab yang didefinisikan jelas dan dimengerti. Karena proses perangkat lunak didefinisikan dengan jelas, maka manajemen mempunyai pengatahuan yang baik mengenai kemajuan proyek tersebut. Biaya, jadwal dan kebutuhan proyek dalam pengawasan dan kualitas produk yang diawasi.

5. Level 4 (Managed Level)
Pada level ini, organisasi membuat suatu matrik untuk suatu produk, proses dan pengukuran hasil. Proyek mempunyai kontrol terhadap produk dan proses untuk mengurangi variasi kinerja proses sehingga terdapat batasan yang dapat diterima. Resiko perpindahan teknologi produk, prores manufaktur, dan pasar harus diketahui dan diatur secara hati-hati. Proses pengembangan dapat ditentukan karena proses diukur dan dijalankan dengan limit yang dapat diukur.

6. Level 5 (Optimized Level)
Pada level ini, seluruh organisasi difokuskan pada proses peningkatan secara terus-menerus. Teknologi informasi sudah digunakan terintegrasi untuk otomatisasi proses kerja dalam perusahaan, meningkatkan kualitas, efektifitas, serta kemampuan beradaptasi perusahaan. Tim pengembangan produk menganalisis kesalahan dan defects untuk menentukan penyebab kesalahannya. Proses pengembangan melakukan evaluasi untuk mencegah kesalahan yang telah diketahui dan defects agar tidak terjadi lagi.

Sumber : http://liapsa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5


Minggu, 06 Januari 2019

Post Test Kendali dan Audit Sistem Informasi


Pengendalian TI didefinisikan sebagai suatu pernyataan hasil yang diinginkan atau maksud yang dicapai oleh prosedur pengendalian implementasi dalam kegiatan TI khusus. 
Terdapat 15 area pengendalian, sebut dan jelaskan.

1. Integritas Sistem  

a. Ketersediaan dan kesinambungan sistem komputer untuk user.  
b. Kelengkapan, Keakuratan, Otorisasi, serta proses yg auditable.  
c. Persetujuan dari user atas kinerja sistem yang di inginkan.  
d. Preventive maintenance agreements untuk seluruh perlengkapan.  
e. Kesesuaian kinerja antara S/W dan jaringan dengan yang diharapkan.  
f. Serta adanya program yang disusun untuk operasi secara menyeluruh.  

2. Manajemen Sumber Daya  

a. Faktor-faktor yang melengkapi integritas sistem.
b. Yaitu meyakini kelangsungan (ongoing) H/W, S/W, SO, S/W aplikasi, dan komunikasi jaringan komputer, telah di pantau dan dikelola pada kinerja yang maksimal namun tetap dengan biaya yang wajar.  
c. Hal-hal tersebut di dokumentasikan secara formal, demi proses yang berkesinambungan.

3. Pengendalian Perubahan S/W Aplikasi dan S/W sistem  

a. Menentukan adanya keterlibatan dan persetujuan user dalam hal adanya perubahan terhadap s/w aplikasi dan s/w sistem  
b. Setiap pengembangan dan perbaikan aplikasi harus melalui proses formal dan di dokumentasikan serta telah melalui tahapan-tahapan pengembangan sistem yang dibakukan dan disetujui.  

4. Backup dan Recovery  

a. Demi kelangsungan usaha, harus tersedia data processing disaster recovery planning (rencana pemulihan data dan pusat sistem informasi apabila terjadi kehancuran).
b. Baik berupa backup dan pemulihan normal, maupun rencana contingency untuk kerusakan pusat SI (lokasi gedung, peralatanya, SDM-nya maupun manualnya).  

5. Contigency Planning  

a. Perencanaan yang komprehenshif di dalam mengantisipasi terjadinya ancaman.
b. terhadap fasilitas pemrosesan SI. 
c. Dimana sebagian besar komponen utama dari disaster recovery plan telah dirumuskan dengan jelas, telah di koordinasikan dan disetujui, seperti critical application systems, identifikasi peralatan dan fasilitas penunjang H/W, sistem S/W dan sebagainya.  

6. System S/W Support  

a. Pengukuran pengendalian dalam pengembangan, penggunaan, dan pemeliharaan dari S/W SO, biasanya lebih canggih dan lebih cepat perputarannya dibandingkan dengan S/W aplikasiDengan ketergantungan yang lebih besar kepada staf teknik untuk integritas fungsionalnya.  
b. Pengukuran kendali pengamanan aplikasi individu maupun pengamanan logika sistem secara menyeluruh (systemwide logical security).

7. Dokumentasi  

a. Integritas dan ketersediaan dokumen operasi, pengembangan aplikasi, user dan S/W sistem  
b. Diantaranya dokumentasi program dan sistem, buku pedoman operasi dan schedule operasi.  
c. Untuk setiap aplikasi sebaiknya tersedia dokumentasi untuk tiap jenjang user.  

8. Pelatihan atau Training  

a. Adanya penjenjagan berdasarkan kemampuan untuk seluruh lapisan manajemen dan staf, dalam hal penguasaannya atas aplikasi-aplikasi dan kemampuan teknisnya.  
b. Serta rencana pelatihan yang berkesinambungan.

9. Administrasi  

a. Struktur organisasi dan bagannya, rencana strategis, tanggungjawab fungsional, job description, sejalan dengan metoda job accounting dan/atau charge out yang digunakan.  
b. Termasuk didalamnya pengukuran atas proses pengadaan dan persetujuan untuk semua sumber daya SI.  

10. Pengendalian Lingkungan dan Keamanan Fisik  

a. Listrik, peyejuk udara, penerang ruangan, pengaturan kelembaban, serta kendali akses ke sumber daya informasi.  
b. Pencegahan kebakaran, ketersediaan sumber listrik cadangan, c. Juga pengendalian dan backup sarana telekomunikasi.

11. Operasi  

a. Diprogram untuk merespon permintaan/keperluan SO.  
b. Review atas kelompok SO berdasarkan job schedulling, review yang terus-menerus terhadap operator, retensi terhadap console log message, dokumentasi untuk run/restore/backup atas seluruh aplikasi. 
c. Daftar personel, dan nomor telepon yang harus dihubungi jika muncul masalah SO, penerapan sistem sift dan rotasi serta pengambilan cuti untuk setiap operator.  

12. Telekomunikasi  

a. Review terhadap logical and physical access controls. 
b. Metodologi pengacakan (encryption) terhadap aplikasi electronic data interchange (EDI).  
c. Adanya supervisi yang berkesinambungan terhadap jaringan komputer dan komitmen untuk ketersediaan jaringan tersebut dan juga redundansi saluran telekomunikasi.  

13. Program Libraries   

a. Terdapat pemisahan dan prosedur pengendalian formal untuk application source code dan compiled production program code dengan yang disimpan di application test libraries development. 
b. Terdapat review atas prosedur quality assurance.  

14. Application Support  

a. Bahwa proses tetap dapat berlangsung walaupun terjadi kegagalan sistem.  
b. Sejalan dengan kesinambungan proses untuk inisiasi sistem baru, manajemen.  
c. proyek, proses pengujian yang menyeluruh antara user dan staf SI.  
d. Adanya review baik formal maupun informal terhadap tingkat kepuasan atas SDLC yang digunakan.  

15. Microcomputer Controls  

a. Pembatasan yang ketat dalam pengadaan, pengembangan aplikasi, dokumentasi atas aplikasi produksi maupun aplikasi dengan misi yang kritis, sekuriti logika, dan fisik terhadap microcomputer yang dimiliki.  
b. Serta pembuatan daftar inventaris atas H/W, S/W, serta legalitas dari S/W untuk menghindari tuntutan pelanggaran hak cipta.  



Pre Test Kendali dan Audit Sistem Informasi


Pengendalian internal telah mengalami perubahan dari konsep 'ketersediaan pengendalian' ke konsep 'proses pencapaian tujuan'.
Apakah maksud dari konsep 'Proses Pencapaian Tujuan' tersebut?

Berdasarkan perkembangan di bidang manajemen SDM, konsep pengendalian intern juga mengalami perubahan dari konsep ketersediaan pengendalian inetern beralih ke konsep proses pencapaian tujuan. 

Berdasarkan konsep baru tersebut disadari bahwa intelektualitas tidak lagi terletak pada pucuk pimpinan, tetapi terletak dilapisan bawah. Mereka yang deket dengan konsumen yang paling mengerti dengan kebutuhan pasar. Pengorganisasian yang paling tepat untuk kondisi seperti ini adalah seperti pengorganisasian orkes simponi. Organisasi ini sepenuhnya akan digerakan oleh dinamika para pekerja (ujung tombak) sesuai spesialisai masing-masing. Untuk menjaga kekompakan agar terjadi irama yang serasi dibutuhkan seorang manajer yang berfungsi sebagai konduktor.  Manajer tersebut tidak lagi harus memiliki pengetahuan teknis seperti yang dimiliki pemain orkesnya, tetapi yang diperlukan hanya seorang yang mampu mengatur tempo dan menguasai tingkatan nada.


Sumber : http://liapsa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5

Rabu, 05 Desember 2018

Struktur Team yang Digunakan Untuk Mengorganisasikan Para Programmer



Cara  seorang  programmer  dalam  menangani  pekerjaan  mereka  sangat  berpengaruh  pada  kualitas software  yang  mereka  buat.  Alternatifnya, para programmer bisa  diorganisasikan  sebagai  satu kesatuan   team.   Mereka   bekerja   untuk   periode   waktu   tertentu   untuk   menyelesaikan   suatu proyek,dimana keputusannya dibicarakan diantara anggotanya. Hal ini sangat bermanfaat bila proyek yang ditangani sangat komplek dan tidak jelas.
Proses pengembangan, penerapan,dan implementasi dari software, untuk saat ini banyak dilakukan secara  team.  Dari  segi  audit,  perhatian/tujuan  utamanya  adalah  bahwa  manajemen  telah  memilih struktur   team   dengan   hati-hati   dilihat   dari   segi   proyek,   tingkat   kompleksitasnya,   dan   tingkat keterlambatan dari jadwal proyek agar kemampuan dan kualitas mereka bisa diorganisasikan dalam bentuk team dimana mereka harus bekerja.

Untuk itu ada 3 struktur team yang digunakan untuk mengorganisasikan para programmer :
1.      Ketua Tim Programmer (Chief Programmer Team).
Struktur Chief Programmer Team dapat dilihat pada gambar 5.6.



Fungsi dan Cirinya : 

a.       Chief Programmer :
• Bertanggung jawab secara total/penuh untuk sistem dimana team bekerja
• Harus seorang ahli
• Seorang programmer yang sangat produktif
• Bertanggungjawab  dalam  mendesain,  coding,  dan  mengintegrasikan  bagian  yang  kritis dalam sistem
• Memberikan perintah kerja pada bagian back-up dan support programmers.
b.      Back-up Programmers :
• Seorang programmer  senior  yang bertanggungjawab  dalam  memberikan  dukungan  penuh pada chief programmer
• Harus bisa mengambil alih tugas chief programmer setiap saat
c.       Support Programmers:
• Diperlukan pada saat proyek besar yang tidak bisa dikerjakan oleh chief programmer dan back-up programmer saja.
• Menyediakan dukungan
• Bekerja dalam pembuatan coding dan uji coba modul tingkat rendah ( testing lowerlevel)
d.      Librarian (penyedia data) :
• Bertanggungjawab dalam perawatan program production library.
• Menyediakan  input  dan  mengumpulkan  keluaran  untuk  para  programmer,  file  output  dari hasil  kompilasi  dan  ujicoba,  mempertahankan  agar  source  code  dan  object-code  library tetap up to date.
Sruktur  “  The  Chief  Programmer  team  “  ini  di  desain  untuk  mengurangi  kebutuhan  proses informasi antara anggota team dan untuk meningkatkan kapasitas dari proses informasi.

2.      Penyesuaian Tim (Adaptives Teams)
Struktur Adaptives Teams dapat dilihat pada gambar  5.7.
Struktur ini diperuntukan untuk melayani 2 kebutuhan, yaitu:
1.  Keinginan organisasi untuk meningkatkan kualitas program
2.  Memenuhi kebutuhan sosial/ psikologi dari setiap anggota programmer dalam team.

Perbedaan dari struktur ini dengan struktur sebelumnya adalah:
• Adaptive  team  tidak  punya  tigkat  otoritas,  dimana  kepemimpinan  dalam  team  ada  di tangan para anggota.
• Dalam Adaptive team, tugas diberikan pada anggota dari team daripada ditentukan lewat posisi. • Adaptive   team   tidak   mempunyai   aturan   formal   librarian   (penyedia   data)   dalam mengkoordinasikan  fungsi team.

3.      Desentraliasi Pengendalian Tim (Controlled-Decentralized Teams)
Struktur  ini  mempunyai  junior  programmer  yang  akan  melaporkan  hasil   program  pada  senior programmer, kemudian oleh senior programmer dilaporkan juga pada ketua proyek. Dengan struktur  ini, manfaat/keuntungan  dari  struktur  sebelumnya    akan    didapatkan.

Keuntungan : 
Dapat  memecahkan  masalah  yang  kompleks,  dimana  struktur  dari  grup  ini akan memfasillitasi pemecahan masalah.

Kerugian : 
Strukur  ini  tidak  bisa  bekerja  dengan  baik  apabila  tugas  dari  programmer  tersebut tidak bisa di bagi-bagi, dan dengan waktu deadline yang sangat ketat. Struktur Controlled-Decentralized Teams dapat dilihat pada gambar 5.8.  





Pengelolaan Kelompok Sistem Programming
Para programmer sering diklasifikasikan menurut aplikasi programmer atau sistem programmer. Dahulu,  programmer  membangun  dan  merawat  program  untuk  system aplikasinya.  Tetapi  kini, membangun dan merawat sistem software. Seperti sistem operasi, sistem manajemen database, dan komunikasi software.

Mengontrol Masalah
Mengontrol  sistem  programmer  adalah  tugas  yang  berat,  mereka  biasanya  memiliki  keahlian yang tinggi dan sering bekerja sendiri atau ada di dalam grup yang kecil. Dengan menerapkan kontrol  secara  tradisional  pada  aktivitas  mereka seperti  pemisahan  tugas,  sangatlah  sulit. Mereka biasanya bekerja pada situasi yang kritis.

 Mengukur Sistem Kontrol
Meskipun sulit unuk mengontrol sistem programmer, beberapa hal ini dapat di implementasikan untuk mengontrolnya:
1. Pekerjakan staf sistem programming yang mempunyai kualitas yang tinggi.
2. Pisahkan tugas seluas mungkin, contohnya tanggung jawab untuk desain dan coding sistem program dipisah dari tanggung jawab untuk uji coba program.
3. Buat metode dokumen standar.
4. Batasi  wewenang  sistem  programmer,  jadi  seorang  programmer  hanya  bekerja  sesuai dengan aplikasi yang dikuasainya.
5. Jauhkan prosedur petunjuk manual dan kunci mesin dari aktivitas sistem programmer. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas yang tidak diinginkan / sesuai dengan tugasnya tidak terjadi.
6. Pekerjakan konsulan dari luar untuk mengevaluasi pekerjaan programming.
7. Perintahkan programmer aplikasi untuk mengevaluasi pekerjaan sistem programmer secara berkala agar dapat dihasilkan program yang berkualitas.

Sumber :
http://liapsa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5