Rabu, 05 Desember 2018

Tahapan Pengembangan Program

1.      Perencanaan (Planning) 
Jika suatu software akan dikembangkan dan diimplementasikan secara in-house, manajemen harus memanfaatkan lima teknik perencanaan biaya yang di buat oleh Boehm (1984) sebagai berikut : 
            1.   Algorithmic Models (model algoritma)
Model ini akan memperkirakan jumlah sumber daya yang dibutuhkan berdasar pada faktor biaya, sebagai contoh memperkirakan jumlah instruksi yang harus di ketik (di tulis), bahasa pemrograman yang digunakan, dan perubahan pada permintaan kebutuhan. Dengan menggunakan model COCOMO (Boehm’s (1981)). 
            2.   Expert Judgment (penilaian seorang ahli)
Seorang ahli dapat memperkirakan kebutuhan sumber daya yang diperlukan dalam proyek / pembuatan program. Menurut penelitianVicinanza et el’s (1991), seorang ahli dapat menjadi pembuat perkiraan yang lebih baik untuk menentukan sumber daya jika dibanding dengan model algoritma. 
            3.   Analogy (analogi)
Jika proyek software yang sama pernah dibuat, penentuan sumber daya yang dibutuhkan dapat di dasarkan pada pengalaman sebelumnya.
            4.  Top-Down Estimation (Perkiraan atas-bawah)
Proyek di pecah kedalam beberapa tugas (pekerjaan), dan penentuan sumber daya yang dibutuhkan oleh setiap tugas tersebut baru dibuat.  5. Bottom-Up Estimation (Perkiraan bawah-atas) : jika tugas-tugas sudah di buat terlebih dahulu, kebutuhan sumber daya untuk masing-masing dapat diperkirakan dan di satukan / dikumpulkan untuk keperluan seluruh kebutuhan proyek. 

 Tugas/keterlibatan auditor :
Tugas utama dari manajemen dalam tahap ini adalah untuk memperkirakan kebutuhan besarnya sumber daya (khususnya jam kerja) yang dibutuhkan dalam pengembangan, pengadaan, dan penerapan software. Jika, sebagai contoh, s/w di buat di rumah (in house), manajemen harus berusaha untuk memperkirakan berapa jumlah baris kode (program) yang di ketik atau banyaknya fungsi yang di buat. 
Selain memperkirakan kebutuhan sumber daya, manajemen juga harus memutuskan tujuan dari keputusan penting yang dibuat selama fase perencanaan seperti :


2.      Pengendalian (Control) 
Pada tahap kontrol ini, ada dua tujuan utama yaitu : 
1.    Untuk memonitor kemajuan dan beberapa tahap pada siklus hidup s/w agar tidak bertentangan dengan rencana awal. 
2. Mengontrol tugas pengembangan, pengadaan dan implementasi s/w, agar s/w dapat di produksi      secara autentik, akurat dan lengkap. 
Untuk memonitor agar kontrol tidak bertentangan dengan rencana awal, beberapa teknik dapat digunakan seperti : 
a.    Work Breakdown Structures (WBS)
Dengan teknik ini kita dapat mengidentifikasi tugastugas yang spesifik untuk pengembangan, pengadaan, dan implementasi s/w yang dibutuhkan. (Mc.Leod and Smith 1996).

b.    Gantt Chart
Dapat digunakan untuk membantu mengatur tugas (schedule) (lihat gbr.5.3). Teknik ini akan menunjukan kapan tugas harus dimulai dan diselesaikan, tugas apa yang harus dibuat bersama-sama, dan tugas apa yang harus dihasilkan secara serial.


c.     Program Evaluation and review technique (PERT)
Menunjukan tugas-tugas yang harus diselesaikan, bagaimana hubungannya, kebutuhan sumber daya apa untuk setiap tugastugasnya. (lihat 5.4)


Seorang auditor harus mempunyai dua perhatian khusus pada kendali, pada tahap kontrol ini yaitu : 
      1. Auditor harus dapat mengevaluasi apakah fungsi dari aktivitas kontrol dapat diterapkan juga pada       software yang berbeda. 
      2. Seorang auditor harus dapat mengumpulkan bukti apakah prosedur dari suatu kontrol sudah                dijalankan dengan benar dan dapat dipercaya.

3.      Perancangan (Design) 
Dalam tahap desain, seorang programmer bertugas untuk menspesifikasikan struktur dan operasi dari program untuk menemukan artikulasi yang dibutuhkan selama tahap proses informasi sistem desain dari pengembangan sistem. Selama tahap ini, perhatian utama seorang auditor adalah untuk menentukan apakah programmer menggunakan suatu tipe khusus dari pendekatan sistematik untuk desain. Auditor harus mengubah keinginannya berdasarkan beberapa faktor seperti ukuran dan bahan dari suatu program. 
Seorang auditor juga dapat memperoleh bukti dari proses desain dengan melakukan interview, observasi, dan review dari dokumentasi. Mereka dapat berkomunikasi dengan programmer, apakah mereka dapat memahami tentang kebutuhan dengan menggunakan pendekatan yang sistematik untuk desain, jika ya, bagaimana menggunakannya. 
Auditor juga dapat mengamati apakah programmer menggunakan pendekatan sistematik untuk mendesain program.  Mereka juga dapat meninjau dokumentasi program, apakah memiliki struktur chart sebagai bukti programmer menggunakan pendekatan yang sistematik untuk mendesain.

4.      Pengkodean (Coding) 
Tahap koding (pengetikan / penulisan program) dilakukan pada saat s/w akan dibuat atau dimodifikasi. Selama tahap ini, programmer akan menulis dan mendokumentasikan source code (program sumber) dalam bahasa pemrograman untuk mengimplementasikan desain program. 

Strategi Implementasi modul dan integrasi 
Tiga strategi utama dari implementasi modul dan integrasi adalah sebagai berikut : 
1.      Top-Down
Strategi ini digunakan jika, modul level atas (high-level modules) dibuat (coding), di test, dan diintegrasikan sebelum modul level bawah (low-level modules). Keuntungannya adalah kesalahan pada modul level atas dapat teridentifikasi lebih dini, kerugiannya adalah pada saat uji coba program akan menemui kesulitan ketika modul level bawah menemukan kesalahan fungsi input-output yang sangat sulit. 
2.      Bottom up
Strategi ini digunakan jika, modul level bawah di buat (coding), di test, dan diintegrasikan sebelum modul level atas di buat. Keuntungannya adalah modul level rendah yang merupakan operasi yang paling sulit di implementasikan dan diuji terlebih dahulu. Kerugiannya adalah pendekatan ini sangat sulit untuk di teliti seluruh operasinya, sebelum programnya selesai dibuat. 
3.      Threads (rangkaian / untaian)
Strategi ini digunakan jika, keputusan dibuat terlebih dahulu untuk fungsi program yang akan dibuat, kemudian modul yang akan mendukungnya baru dibuat dan kemudian diimplementasikan untuk menghasilkan fungsi yang penting. Keuntungannya adalah fungsi yang paling penting di implementasikan terlebih dahulu. Kerugiannya adalah integrasi dari modul yang berikutnya mungkin akan lebih sulit, jika dibandingkan dengan pendekatan top-down atau bottom-up. 

Auditor perlu mencari bukti yang benar dengan cara uji coba oleh manajemen program dalam memilih strategi implementasi modul dan integrasi. Khususnya pada program yang besar, penggunaan strategi yang salah (jelek) dapat mengakibatkan program yang dihasilkan menjadi kurang berkualitas. Auditor dapat melakukan wawancara untuk menguji apakah manajemen menggunakan pendekatan sistematik untuk memilih strategi implementasi modul dan integrasi. Mereka juga dapat menguji dokumentasi program untuk memperoleh bukti tipe strategi yang telah di adopsi (di pilih). 

Strategi Coding 
Menurut konvensi (kesepakatan) program terstruktur, terdapat tiga dasar struktur utama dalam struktur kontrol yaitu (lihat gbr.5.5) : 
      1. Urutan sederhana (simple sequence - SEQUENCE)  
      2. Pemilihan dengan seleksi (selection based on a test – IF-THEN-ELSE)
      3. Pengulangan kondisi (conditional repetition-DO WHILE) .

Jika konvensi pemrograman terstruktur di penuhi, dapat dipastikan bahwa para programmer akan membuat source-code yang tingkat kesalahannya kecil, mudah untuk dimengerti dan mudah untuk dirawat.  Auditor dapat mencari bukti untuk memastikan apakah manajemen programming di jamin di buat oleh programmer mengikuti struktur programming yang telah di sepakati. Mereka dapat melakukan wawancara dengan manager atau programmer tentang tugas dan cara yang dilakukannya dalam membuat program.


Auditor juga dapat mengecek apakah programmer dalam membuat programnya menyediakan fasilitas otomatis sebagai alat bantu untuk mereka.
Beberapa tipe penggunaan fasilitas koding otomatis anatara lain :
  • Shorthand preprocessor, memungkinkan programmer untuk menulis kode secara singkat, jugadapat menerjemahkan kode singkat ini dalam sintak yang lebih lengkap, contoh COBOL.
  • Decision-table preprocessor, memindahkan bentuk teks program ke dalam bentuk sourcecodemenggunakan bahasa pengolahan compiler.
  • Copy facility, memungkinkan penggunaan kode secara berulang
  • Editor, yang memungkinkan kode di ciptakan, di format, dan dimodifikasi secara mudah.
  • User-interface management system, memungkinkan desain dari implementasi yang cepat,seperti windows, icons, menus, dan dialog boxes.
  • CASE tools, berisi bermacam-macam fasilitas yang dapat membantu proses koding.

Strategi Dokumentasi

Pedoman untuk menghasilkan dokumentasi yang berkualiatas adalah sebagai berikut :

1. Sediakan petunjuk yang menunjukan proes pembuatan program ke dalam beberapa tahap dan komponen secara keseluruhan dan hubungan antara komponen-komponen tersebut.
2. Gunakan baris komentar dalam program secara bebas untuk menerangkan jalannya (logika)program.
3. Beri nama untuk variabel, konstanta tipe, paragraf, modul, dan seksi yang berarti kepada para pembaca source-code program.
4.  Buat lay-out dari source-program sehingga mudah untuk dibaca.
5.  Kelompokan tipe kode yang saling berhubungan.

5.         Testing (Pengujian)
Testing merupakan Proses menganalisa suatu entitas software atau sistem untuk mendeteksi perbedaan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diinginkan (defect / error / bugs) dan mengevaluasi fitur-fitur atau data-data dari entitas software (standar IEEE1059). Dapat dikatakan dengan proses menjalankan atau run dan mengevaluasi perangkat lunak (secara manual maupun otomatis) untuk menguji apakah perangkat lunak sudah memenuhi persyaratan atau belum, dalam artian testing ini menguji sebuah sistem apakah sistem tersebut sudah dapat di gunakan atau belum dan sudah sesuai dengan apa yang di rancang atau belumnya.

Testing ini juga memiliki sebuah tujuan di antara lain untuk :
a.   Menguji sehingga dapat menemukan kesalahn yang sebelumnya belum bisa di temukan.
b.   Pengujian yang baik bukan untuk memastikan tidak ada kesalahan  tetapi untuk memcari sebanyak mungkin kesalahan yang ada pada program, agar program yang ada dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah di harapkan/di rencanakan.

Dalam testing terbagi ke dalam dua kriteria dalam melakukan sebuah pengujian sebuah perangkat lunak.
1.      Software Verification.
Pada kriteria ini hal yang perlu di cari atau di testing berkenaan dengan apakah metode dalam pengembangan sistem sudah benar atau belum, serta sistem yang ada apakah sudah sesuai belum dengan spesifikasi yang ada.

2.      Software Validation.
Pada kriteria yang kedua ini berkenaan dengan pengujian apakah sistem yang dikembangkan sudah benar serta sistem yang ada sudah sesuai dengan yang diharapkan pengguna atau belum.
Dalam testing dan implementasi sistem dikenal 2 metode pengujian yang populer, yakni pengujian black box dan pengujian white box.

1.   Black Box




Black-Box Testing merupakan pengujian yang berfokus pada spesifikasi fungsional dari perangkat lunak, tester dapat mendefinisikan kumpulan kondisi input dan melakukan pengetesan pada spesifikasi fungsional program. 
Pengujian Black-Box berusahan menemukan kesalahan dalam kategori (Pressman, 1997) :
a)      Fungsi-fungsi yang salah.
b)      Kesalahan desain interface.
c)      Kesalahan dalam struktur berkas atau akses database eksternal.
d)     Kesalahan kinerja (bisa sistem atau manusia).
e)      Masalah inisialisasi.
Kategori error yang akan diketahui melalui black box testing  :
  Fungsi yang hilang atau tak  benar pada sistem.
  Error  dari antar-muka
  Error  dari struktur data atau  akses eksternal database.
  Error  dari kinerja atau tingkah  laku
  Error  dari inisialisasi dan  terminasi  

           2.   White Box
Pada metode white box testing pengujian yang dilakukan berdasarkan pada pengecekan terhadap detail perancangan sistem yang ada, menggunakan struktur kontrol dari desain program secara procedural untuk membagi pengujian ke dalam beberapa kasus pengujian.
Pengujian dengan menggunakan White-Box membuat programmer dapat melakukan beberapa hal berikut :
1.      Kepastian bahwa semua modul program pernah di uji paling tidak satu kali.
2.      Menggunakan keputusan logis pada sisi true atau false.
3.      Mengeksekusi semua looping dan pencabangan pada setiap operasi modul.
4.      Menggunakan struktur berkas untuk menjamin validasi.
Langkah dalam penerapan metode testing white box yang pertama kita mendefinisikan sebuah alus logika dari sebuah sistem ,kemudian membangun kasus untuk digunakan dalam pengujian lalu yang terakhir kita tinggal melakukan pengujian. Namun metode ini mempunyai kelemahan seperti untuk software atau perangkat lunak yang tergolong besar ,metode pengujian dengan white box testing dianggap sebagai strategi yang tergolong boros, karena akan melibatkan sumberdaya yang besar untuk melakukannya.

6.         Pengoperasian dan Pemeliharaan (Operation and Maintenance)
Dalam  sudut  pandang  Sistem  Audit,  perhatian  utama  pada  operasional  program  adalah  bagaimana performance program tersebut dapat dimonitor setiap saat. Seseorang harus bertanggung jawab untuk mengidentifikasi apabila program perlu perawatan, kemungkinan lain adalah identifikasi dari kebutuhan perawatan  mungkin  tidak terjadi. Akibatnya,  bisa  terjadi  kekeliruan  pada  database  program,  kegagalan dalam pencapaian keinginan user, atau operasi program tidak efisien.
Mekanisme  formal  dalam  monitoring  status  operasional  program  sangat  diperlukan,  ketika  pengguna dari program adalah seluruh anggota organisasi yang terdiri dari berbagai macam latar belakang.

Ada 3 macam tipe dari perawatan (maintenance) yang diperlukan agar program tetap beroperasi :
1. Repair-maintenance-errors, perawatan dengan cara memperbaiki kesalahan.
2. Adaptive maintenance-users needs, perawatan dengan mengadaptasi pada keinginan user.
3. Perfective maintenance, perawatan dengan maksud agar diperoleh program yang sempurna.

Perhatian utama seorang auditor pada fase operation & maintenance adalah untuk memastikan bahwa fase ini berjalan dengan efektif dan pelaporan secara berkala dapat dilakukan, serta proses perawatan bisa di kontrol dengan baik. Auditor   harus   bisa   mencari   bukti   bawa   manajemen   telah   meninjau   sistem   dengan   baik dan bertanggungjawab  didalam  monitoring  status  dari  operasional  program.  Caranya  dengan  melakukan interview  (wawancara),  observasi,  tinjauan  pada  dokumen  yang  menunjukkan  bahwa  sistem  telah beroperasi dengan baik. Selanjutnya mereka harus fokus pada kualitas dari kontrol proses maintenance.

Sumber :
https://drive.google.com/file/d/0B46_Rxk3K_EjRDZfZnd3dWdFV2c/view
http://liapsa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5


Minggu, 21 Oktober 2018

Analisis Jurnal Sistem Informasi



Analisis Keamanan Sistem Informasi Akademik Berbasis Web Di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Sistem Informasi Akademik (SIA) merupakan sistem berbasis online yang memudahkan bagian civitas akademik untuk mengakses berbagai informasi yang berkaitan dengan kebutuhan akademik dan administrasi kampus. Informasi yang telah disediakan dapat diakses dari komputer yang tersambung pada jaringan di kampus dengan mengetahui nama akun dan kata sandi yang dibutuhkan. Penggunaan perangkat lunak ini memudahkan kegiatan administrasi akademik sehingga dapat dikelola dengan baik dan informasi yang diperlukan dapat diperoleh dengan mudah dan cepat.
Metode yang digunakan dalam melakukan analisis ini menggunakan beberapa metode, yaitu studi literatur, pengujian sistem yang sudah ada, perumusan solusi permasalahan dan penerapan solusi permasalahan.

A.    Studi Literatur
      Pada tahap ini dilakukan pengumpulan bahan – bahan pustaka (literatur) sesuai dengan masalah yang terjadi. Bahan – bahan pustaka sebagian besar diperoleh dari Internet karena sebagian besar referensi pada buku cetak tidak ditemukan.
1.      Alat dan Bahan
a.)   Sistem Informasi Akademik Fakultas Teknik UNDIP versi 0.4
SIA pada versi ini digunakan di Teknik Elektro  program Ekstensi Fakultas Teknik Undip dan dapat diakses melalui Internet dengan alamat http://sia-ft.undip.ac.id/elektroext/.
b.)   CMS Drupal merupakan salah satu E-CMS yang sangat populer saat ini. CMS ini dipilih karena kemampuannya untuk membuat modul sendiri termasuk modul sistem login. CMS Drupal dapat dilihat di situs resminya http://www.drupal.org/.
c.)   Peramban Firefox dan Internet Explorer Kedua peramban ini dipilih karena peramban terbanyak yang digunakan pada terminal di lingkungan kampus FT Undip. Digunakan dua versi peramban Firefox yaitu versi 1.0 dan versi 1.5. Internet Explorer 6.0 digunakan untuk pengujian pada terminal yang berbasis Microsoft Windows.
d.)   Fiddler v1.1 merupakan salah satu program pemantau sesi (session inspector) dengan target peramban Microsoft Internet Explorer. Dengan perangkat lunak ini lalulintas data dari/ke Internet Explorer dapat dipantau.
e.)   Ethereal 0.99 adalah salah satu program pengendus (sniffer) aliran data yang melewati jaringan. Ethereal ditempatkan antara server dan peramban. Semua paket data yang melewati perangkat keras (seperti ethernet card dan router) dapat dipantau.
2.      Pengumpulan Data
Melakukan pengumpulan data dengan mengambil data pengguna dari daftar NIM karena NIM dijadikan sebagai nama pengguna pada SIA versi 0.4. Cara pengumpulan data NIM termudah adalah dari daftar mahasiswa yang terdapat pada SIA. Ada dua jalan untuk mendapatkan data mahasiswa menggunakan SIA. Pertama pada menu Mencari data mahasiswa dan kedua pada menu Daftar peserta matakuliah. Data kata sandi dapat diambil dengan dua cara. Pertama menggunakan kata sandi default. Kata sandi default untuk SIA versi 0.4 adalah sama dengan NIM pengguna. Kedua dengan metode social engineering yaitu metode pendekatan dengan pengguna.

B.    Analisis dan Pengujian Sistem
Pada tahap ini dilakukan pengujian, yaitu yang pertama adalah masalah sistem login.  Pencurian data kata sandi dapat dilakukan dengan cara pengendusan data yang melewati jaringan antara client dengan server. Pengujian berikutnya adalah dengan melihat jejak data yang tertinggal di komputer terminal (client). Komputer terminal yang disediakan sebagian besar menggunakan peramban Firefox sehingga target penelitian adalah peramban Firefox. Pada peramban Firefox terdapat fasilitas untuk menyimpan kata sandi.

 Gambar 1. Konfirmasi penyimpanan kata sandi pada Firefox 1.0



Seperti terlihat pada Gambar 1, pada Firefox 1.0 tombol default dialog penyimpanan kata sandi adalah Yes  yang berarti akan menyimpan kata sandi dalam pengelola kata sandi (password manager). Hal ini mungkin tidak terlalu rentan pada Firefox 1.5 karena tombol default dialog untuk menyimpan kata sandi bukan Yes melainkan Not Now seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

 Gambar 2. Default Dialog Password

Penekanan tombol Yes pada Firefox 1.0 (tombol Remember pada Firefox 1.5) akan mengakibatkan kata sandi tersimpan dalam pengelola kata sandi. Tombol Never for this site digunakan untuk mencatat  kata sandi untuk situs yang dikunjungi (dalam kasus ini adalah SIA) tidak akan pernah disimpan ke dalam pengelola kata sandi. Tombol No pada Firefox 1.0 (tombol Not Now pada Firefox 1.5) berfungsi untuk tidak menyimpan kata sandi ke dalam pengelola kata sandi hanya pada saat tombol No ditekan. Kata sandi yang tersimpan dapat dilihat hanya dengan penekanan tombol View Saved Passwords pada jendela Option → Privacy → Passwords seperti terlihat pada Gambar 3. Dengan cara ini, data nama pengguna kata sandi semua pengguna yang telah menggunakan komputer terminal baik untuk tujuan akses SIA maupun layanan Internet lainnya dapat dilihat dengan mudah.

Gambar 3. Jendela option → privacy → password Firefox 1.5

           C.  Perumusan Solusi Permasalahan
     Dalam merumuskan solusi permasalahan, setiap langkah - langkah masalah didokumentasikan. Pada dokumentasi permasalahan dicari solusi untuk memperbaiki sistem yang sedang berjalan.

D.    Penerapan Solusi Permasalahan
         Berdasarkan hasil analisis pengujian, studi literatur dan perumusan solusi masalah dibuat model untuk solusi yang akan digunakan. Model tersebut kemudian dibuat kode program sederhana untuk diuji coba. Apabila hasil uji coba tersebut berhasil, bagian kode program tersebut kemudian ditempelkan pada bagian proyek yang memiliki kelemahan.


E.    Pengujian Ulang Sistem
Tahap akhir adalah pengujian yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Pengujian akhir dimaksudkan untuk mencari kelemahan yang masih ditemui pada solusi yang diberikan. Berdasarkan hasil pengujian apabila ditemukan kesalahan, maka solusi dievaluasi kembali dan diperbaiki untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


Kesimpulan
Pada Sistem Informasi Akademik berbasis web di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro menggunakan beberapa metode, yaitu studi literatur, pengujian sistem yang sudah ada, perumusan solusi permasalahan dan penerapan solusi permasalahan. Tahap pertama, yaitu studi literatur dilakukan pengumpulan data atau bahan pustaka sesuai dengan masalah yang terjadi. Sebagian besar data – data yang dibutuhkan bersumber dari Internet dikarenakan beberapa referensi pada buku cetak tidak ditemukan. Alat dan bahan yang digunakan pada studi literatur, yaitu Sistem Informasi Akademik Fakultas Teknik UNDIP versi 0.4, CMS Drupal CMS Drupal, Peramban Firefox dan Internet Explorer, Fiddler v1.1, dan Ethereal 0.99. Melakukan pengumpulan data dengan mengambil data pengguna dari daftar NIM karena NIM dijadikan sebagai nama pengguna pada SIA versi 0.4. Tahap kedua, yaitu analisis dan pengujian sistem. Pada tahap ini dilakukan beberapa pengujian, yang pertama adalah masalah sistem login. Pencurian data akun dan password dapat dilakukan dengan cara penyusupan data yang melewati jaringan antara client dengan server. Pengujian berikutnya adalah dengan melihat jejak data yang tertinggal di komputer terminal (client). Tahap ketiga, yaitu perumusan solusi permasalahan. Pada perumusan masalah, setiap langkah permasalahan didokumentasikan. Perumusan masalah bertujuan untuk mencari solusi pada sistem yang akan diperbaiki. Tahap keempat, yaitu penerapan solusi permasalahan. Berdasarkan hasil dari analisis dibuat model untuk solusi yang akan digunakan. Model tersebut akan digunakan pada kode program untuk diuji coba. Tahap terakhir, yaitu pengujian ulang sistem. Sistem yang telah diuji coba dianalisis untuk mencari kelemahan dan kekurangan, kemudian dievaluasi dan diperbaiki kembali sehingga dapat menghasilkan sistem yang terbaik.
Pada hasil penelitian dan pembahasan dilakukan pengujian sistem autentikasi, pencarian daftar pengguna, pengujian sistem login dengan kata sandi default, pemantauan sesi, pengendusan menggunakan ethereal, teknik sql injection, pencarian jejak kata sandi pada terminal, perbaikan sistem autentikasi, perancangan, pembuatan modul, pemasangan, aktivasi dan konfigurasi modul, pengujian modul chaplogin, pengujian kata sandi default, pemantauan sesi, pengendusan data, teknik sql injection dan pencarian jejak kata sandi pada terminal. Penggunaan kata sandi secara default sama dengan nama pengguna membuat sistem rawan penyusup.  Penggunaan browser yang tidak terenkripsi membuat history nama pengguna dan kata sandi dapat dilihat pada pengelola kata sandi. Sistem ini telah dilakukan perbaikan dengan mengganti kata sandi default menjadi kata sandi yang dapat dibuat oleh pengguna sendiri. Data kata sandi pada sistem login telah dienkripsi sebelum dikirim ke server.

Saran :
1.  Sebaiknya dilakukan penggantian kata sandi setiap 1 – 2 bulan sekali untuk mengurangi risiko kata sandi dicuri atau diendus.

2.  Dilakukan pengujian dan pemelihara secara berkala terhadap keamanan sistem terutama kata sandi pengguna.

Link Jurnal :